Ahok Sudah Berpengalaman Gonta ganti Jabatan

jokowi dan ahok

Jokowi dan Ahok saat berada di ruang kerjanya

Jakarta, Pewartaekbis.com — Terkait dengan pencalonan Jokowi sebagai capres PDIP, banyak kalangan seperti pengamat politik, politikus, dan  Koalisi Jakarta Baru, mengkritik keputusan orang nomor satu di DKI ini maju sebagai Capres. Jokowi  tidak terlalu ambil pusing dengan penolakan sebagian pihak atas pencapresan dirinya. Termasuk penolakan dari koalisi Jakarta Baru.

Jokowi menegaskan, pro dan kontra dalam alam demokrasi adalah hal yang lumrah.

“Ini demokrasi, ada yang tidak senang, ada tidak senang, ada yang mendukung ada yang tidak. Ada yang muji ada yang kritik, biasa aja demokrasi,” ujarnya.

Jokowi mengaku, dirinya akan mengambil segala risiko, termasuk dengan meninggalkan koalisi Jakarta Baru yang dibangun antara PDIP dengan Gerindra dalam Pemilihan Kepala Daerah 2012. Yang penting, lanjut Jokowi, sejak saat ini hingga mendaftarkan diri menjadi calon presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), dia akan tetap bekerja sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan di DKI Jakarta bersama wakilnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Senin sampai Jumat bekerja. Sabtu Minggu libur. Libur itu bisa saya gunakan bekerja biasa, atau untuk partai. Ya, ndak apa-apa dong,” ujarnya dengan kalem seperti biasanya.

Gonta ganti Posisi Jabatan Ahok

Saat dikonfirmasi tentang kemungkinan Jokowi meninggalkan jabatannya sebagai gubernur DKI, Ahok menyatakan bahwa ia akan mendukung apapun keputusan Jokowi.

“Saya sebagai wakil beliau, dari dulu, ya, tetap harus mendukung beliau, apa pun keputusannya,” kata Ahok di Balai Kota, Jumat, 14 Maret 2014.

Menurut dia, Jokowi punya rekam jejak yang teruji untuk memimpin Indonesia. “Apa pun partainya, saya kira siapa pun yang mau memperbaiki negara ini, apalagi dengan rekam jejak teruji yang bisa jadi presiden yang baik, saya wajib mendukungnya,” katanya.

Basuki lalu membandingkan situasi tersebut dengan yang dia alami. Seperti halnya Jokowi, dia juga sering tak menuntaskan masa jabatan. Misalnya, dia hanya menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur selama tujuh bulan untuk kemudian menjadi Bupati Belitung Timur selama 16 bulan, sebelum menjadi calon gubernur Bangka Belitung, lalu melaju ke Pilkada DKI Jakarta.

Namun, kata Basuki, warga Belitung Timur tidak pernah keberatan dengan langkah yang dia tempuh itu.

“Ketika saya berhenti jadi bupati untuk jadi calon gubernur (Bangka Belitung), kenapa rakyat mengerti dan mendukung saya? Karena saya harus membuat yang lebih baik untuk Provinsi Bangka Belitung, dan itu tidak bisa saya lakukan jika hanya jadi bupati,” kata Basuki.

“Kalau saya terus jadi bupati, saya hanya menipu masyarakat karena saya hanya memperpanjang karier politik saya. (Bisa saja) saya lebih baik terus jadi bupati sampai 10 tahun, lalu dari umur 50-60 jadi gubernur, umur 62 ikut pemilu untuk jadi DPR (yang) kalau terpilih nanti sampai umur 67. Terus kalau sudah malas jalan jadi DPD mungkin sampai umur 72. (Kalau pakai pikiran itu) lebih baik saya mengatur seperti itu saja supaya saya selalu dipelihara negara seumur hidup saya,” papar Basuki.

Tags: