Alumni Pesantren Krapyak Raih Beasiswa di Harvard University dan . . .

waskito

Jogja~ Satu lagi anak pesantren yang memiliki prestasi membanggakan. Ia adalah Waskito Jati, santri Krapyak Yogyakarta alumnus Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum, Krapyak, Bantul, Yogyakta. Betapa tidak, ia sukses mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Program Master of Theological Studies (MTS) di Harvard Divinity School dengan jurusan Islamic Studies.

Menurut Waskito, orestasi tersebut bermula dari keberhasilannya lulus dengan IPK tertinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketia itu, ia langsung mendapatkan perkerjaan di kantor Australian National University di Yogyakarta.

“Saya sudah mulai memikirkan untuk mendaftar beasiswa untuk sekolah lagi, dan biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Alhamdulillah, saya dapat mengambil test IELTS dan meraih nilai 7.5. Saya pun mendaftar beasiswa LPDP dengan bekal ini,” sebutnya beberapa waktu lalu.

Namun, ternyata ia gagal memeroleh beasiswa program LPDP di tahun 2015. Namun, ia merasa nilai IELTS (International English Language Test System) memadai untuk mendaftar di beberapa universitas terbaik di dunia. Ia pun mencoba peruntungan di universitas-universitas ternama di dunia seperti University of Chicago dan Harvard University.

“Selain IELTS saya harus juga mengambil test GRE (Graduate Record Examination) yang bisa dibilang sepuluh kali lebih sulit dari IELTS,” imbuhnya.

Akhirnya, awal Maret 2016 kemarin bahwa dirinya sukses diterima di University of Chicago. Universitas tersebut bahakan bersedia menutupi 50 persen dari biaya pendidikan.

“Saya sangat bahagia medapatkan kabar ini,” kisah Waskito.

Satu minggu kemudian, giliran Harvard University yang memberikannya kabar gembira.

“Dalam hati, saya bilang, apapun yang terjadi, kamu telah melakukan yang terbaik, dan email itu pun saya buka. Alangkah terkejutnya saya membaca kata “Congratulation!” di awal surat tersebut, ucapan selamat kepada saya yang telah diterima di Harvard University. Selain itu, Harvard juga membebaskan biaya kuliah dan memberi sedikit uang saku,” lanjut kisahnya.

Akan tetapi, ia mengaku masih mesti berjuang. Pasalnya, ia membutuhkan dana tambahan untuk biaya hidup di Harvard. Meskipun kuliahnya gratis, namun biaya hidup harus ditanggungnya.

“Saya saat ini sedang berusaha agar ada donatur yang berkenan membantu saya mewujudkan mimpi saya dan keluarga agar saya dapat meneruskan pendidikan di Harvard. Fase ini sejujurnya adalah fase yang lebih menakutkan, apakah saya bisa benar-benar berangkat ke Harvard? Saya tidak lagi bisa berusaha sendiri dalam tahap ini. Semoga ini juga termasuk rencana Allah, seperti rencana-rencananya di masa lalu, entah apa ujungnya nanti semoga saya dapat dengan ikhlas dan kuat menghadapinya,” pungkasnya seperti diwartakan NU Online.

Tags:
author

Author: