Dipersidangan, MK Diminta Menafsirkan Ulang Pasal LGBT

hiv

Jakarta ~ Meski sudah tak begitu tenar, sejumlah akademisi tetap mendorong Mahkamah Konstitusi (MK) menafsir ulang pasal homoseks di KUHP. Pihak pemohon bahkan menghadirkan para ahli guna memaparkan berbagai fakta terkait adanya penyimpangan seksual yang kini disebut LGBT.

“Hubungan seks yang dilakukan oleh LGBT, tidak hanya antara kelamin dengan kelamin, tapi dengan kelamin, mulut, anal, alat yang biasa dilakukan oleh lesbian, dan dengan tangan. Ini juga dilakukan lesbian,” tutur ahli dr Dewi Inong di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat (1/8).

Menurut Dewi, tingkat penularan HIV/AIDS meningkat ketika hubungan yang dilakukan menggunakan bagian lain.

“Sesuaikah dengan Pancasila? Apakah hubungan melalui dubur itu kemanusiaan yang adil dan beradab? Itu adalah tempat kotoran dan itu kita harus akui sebagai hak asasi. Normal?” sebutnya di ruang persidangan.

Masalah utama dari LGBT, menurutnya, bukan semata-mata faktor lingkungan atau latar belakang agama.

“Bisa menimbulkan kerugian negara, biaya pengobatan per bulan penderita HIV/AIDS itu Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Dan itu untuk seumur hidup, harus ditanggung negara, itukah HAM? Berapa triliun? Bagaimana pembangunan? Karena kalau tidak ditanggung negara, HAM akan menuntut,” tambahnya.

Seperti diwartakan detik.com, siding di MK itu digelar atas permohonan Prof Dr Euis Sunarti, Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE MA MSc PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS MHum, Sri Vira Chandra D SS MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST MPdI dan Dhona El Furqon SHI MH.

Tags:
author

Author: