Ekonom UI: Demo buruh di China lebih banyak dibanding Indonesia

 

 

Pewartaekbis~ Ternyata, pertumbuhan ekonomi China sebesar 6,9 persen merupakan yang terendah dalam 25 tahun terakhir. Hal itu dikemukakan oleh Ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri.

Ia juga menjelaskan jika ekonomi Amerika Serikat (AS) walaupun sedikit membaik, sulit menyentuh 3 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

“Ekonomi dunia sedang tertekan. Ekonomi AS selalu di bawah 3 persen sehingga tidak bisa lagi jadi motor penggerak pertumbuhan dunia. Juga situasi China yang mengalami pertumbuhan ekonomi terendah dalam 25 tahun terakhir,” sebutnya dalam Diskusi Strategi Investasi di Tahun Monyet oleh Asanusa Asset Management di Jakarta (2/3).

Di hadapan peserta diskusi, ia juga menerangkan jika kondisi dan situasi perekonomian maupun politik di China mengakibatkan peningkatan jumlah demonstrasi oleh buruh di Negara tersebut. Jumlahnya bahkan dikatakannya lebih banyak dibanding Indonesia.

“Demo buruh di China lebih banyak dibanding Indonesia. Tercatat 2.354 kali demo buruh di China pada tahun lalu. Jadi memang perlu waktu buat China melakukan proses transisi. Beruntungnya, Presiden China Xi Jinping punya pemikiran modern sekali, tapi tetap saja ekonomi China tidak akan mampu tumbuh tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Basri juga menerangkan jika China tengah mendorong sumber pertumbuhan ekonomi China yang berasal dari konsumsi masyarakat, bukan lagi investasi. Mereka juga sedang berusaha menggenjot sektor jasa.

“China terlalu banyak investasi daripada belanja, sedangkan Indonesia kebalikannya. Jadi waktu ekonomi dunia anjlok, China sedang berusaha meningkatkan belanja masyarakat supaya mereka bisa menyerap produksinya dan tidak bergantung lagi dari luar,” lanjutnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan mata uang Yuan atau Renminbi sudah menjadi mata uang internasional sehingga mekanismenya di lepas ke pasar.

“Mata uang Yuan merosot terus karena diserahkan ke mekanisme pasar. China menggelontorkan cadangan devisa sampai US$ 1 triliun dalam setahun kemarin supaya menahan Yuan tidak terlalu anjlok,” tandasnya seperti diwartakan liputan6.com.

Tags:
author

Author: