Hebat, Kapolda Jatim Raih Gelar Doktor

polda

JAKARTA – Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf raih gelar doktor. Tema Restorative justice yang merupakan tema bahasan dalam disertasinya, mendapat apresiasi dari tim penguji Universitas Trisakti Jakarta dengan predikat cum laude.  Dalam sidang yang dihadiri enam penguji, dengan Rektor Universitas Trisakti Prof Dr Thoby Mutis sebagai ketua sidang.

Dalam disertasinya yang berjudul Potensi Implementasi Restorative Justice dalam Penegakan Hukum Pidana oleh Polri guna Mewujudkan Keadilan Substansial, Anas menjelaskan bahwa hampir seluruh tindak kejahatan di Indonesia berakhir dengan memenjarakan pelaku. Padahal, penjara bukan solusi terbaik dalam menyelesaikan seluruh tindak kejahatan. Terutama kejahatan yang dampaknya masih bisa direstorasi hingga kembali ke keadaan semula.

Menurut  Anas, restorative justice memiliki dua fungsi. Pertama, masyarakat merasa lebih adil dengan adanya ruang untuk menangani sendiri permasalahan hukumnya sehingga mengurangi beban negara. Dengaan adanya fungsi yang pertama tadi, adanya restorative justice dapat menjadikan aparat penegak hukum lebih fokus pada tindak pidana yang kualifikasinya lebih berbahaya.

Selain itu, restorative justice juga bisa menghasilkan win-win solution bagi dua belah pihak yang berperkara. Pelaku tidak perlu dipenjara, namun tetap bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Sehingga korban tetap bisa mendapatkan keadilan.

Anas berpendapat bahwa Polisi sebenarnya sangat bisa menerapkan restorative justice dalam penyidikan. Dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia disebutkan, untuk kepentingan umum, pejabat Polri dalam melaksanakan tugas dan wewenang bisa bertindak melalui penilaiannya sendiri. Akan tetapi, pasal tersebut sampai saat ini belum bisa diterapkan dengan baik karena belum legitimasi khusus.

Sementara itu juga, dalam internal Polri belum ada norma atau kaidah yang bisa melegitimasi penyidik untuk menerapkan restorative justice agar tidak dikategorikan ilegal. Hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran menyimpang dari hukum acara. Jadi, pada akhirnya penyidik tetap menggunakan hukum positif yang ada.

Prof Eriyantouw Wahid (promotor Anas) mengatakan, “Anas mampu membuktikan secara ilmiah tentang kendala-kendala penyidik dalam mengimplementasikan restorative justice. Yakni, kekhawatiran tidak adanya payung hukum dan kentalnya paradigma masyarakat bahwa persoalan pidana harus diakhiri dengan hukuman”.

Profesor Eriyantouw mengungkapkan, disertasi Anas Yusuf sejalan dengan pemikiran teori dan konsep-konsep yang dituangkan pemikir-pemikir pemidanaan modern saat ini. Ia juga berharap kedepannya Indonesia memiliki kearifan lokal yang bisa digunakan untuk menyelesaikan setiap persoalan secara kekeluargaan

Tags:
author

Author: