Ingin Investasi, Properti atau Saham?

investasi properti

Investasi properti di Indonesia masih jauh dari Bubble, karena lahan masih luas

Pewartaekbis.com — Kesadaran untuk berinvestasi memang tidak selalu sama waktunya untuk setiap orang, bahkan bagi seorang profesional yang berkecimpung di industri keuangan sekalipun kadang baru menyadari pentingnya berinvestasi setelah lama berada di dalam arus perputaran aset dan keuangan. Namun, tidak ada kata terlambat dalam berinvestasi.

Ambil contoh Teguh, seorang  Head of Structured Finance di sebuah perusahaan sekuritas. Ia sudah berkecimpung dalam dunia finace dan sekuritas sejak usia 27 tahun, tetapi  baru mulai berinvestasi  justri pada umur kepala tiga, 34 tahun.

Teguh menyadari pentingnya berinvestasi setelah ia menikah dengan sang istri yang bekerja sebagai fund manager sebuah perusahaan manajer investasi. “Istri saya yang menanamkan kesadaran bahwa investasi itu penting,” kata Teguh.

Teguh yang saat ini berusia 49 tahun berbagi pengalamannya tentang  instrumen yang ia pilih sebagai opsi investasinya yakni deposito dan saham. Sayangnya, pria itu tidak ingat berapa nominal investasi pertamanya waktu itu. “Yang jelas tidak sampai ratusan juta rupiah,” .

Teguh mengatakan bahwa ia bisa mendapat  hasil (return) hingga enam kali lipat dari return indeks harga saham dari bermain trading. Jurus jitu yang Teguh gunakan  kala itu agar return tinggi  yakni cermat menghitung risiko dan memaksimalkan return jangka pendek.

“Dulu harga saham masih banyak yang Rp 150 sampai Rp 200 per saham. Kalau harga sebesar itu mau turun sebanyak apalagi, sih? Kalau turun ke Rp 50 saja, kita sudah bisa hitung tingkat risikonya,” ungkap bapak yang sudah berputra satu ini.

Tiga tahun bermain saham membuat Teguh mulai mengubah tipe investasinya. Ia berinvestasi saham dalam jangka panjang yang menurutnya pas dengan kondisinya saat itu.  Ia membeli sejumlah saham yang potensial, lalu dibiarkan. Untungnya, ada istri yang paham tentang keuangan bersedia mengelola portofolio investasi sahamnya.

Melirik Investasi Properti

Walaupun termasuk andal bermain trading saham, diam-diam Teguh mulai melirik dan jatuh hati  pada investasi properti. Bagi dia, properti merupakan bentuk investasi yang berpotensi menghasilkan profit lebih tinggi dibandingkan investasi lainnya.

Apabila dibuat daftar, Teguh setidaknya memiliki tiga unit aset untuk investasi propertinya.

Pertama, sebuah apartemen. Ketika awal menikah, Teguh yang juga lulusan sarjana arsitektur ini pernah  memiliki sebuah apartemen di daerah Kuningan, Jakarta. Tujuan awal memang bukan  untuk tujuan investasi, ia menyewakan apartemen tersebut kepada kerabatnya. “Cuma sewa bantu saja. Daripada didiamkan,” ujar kepala keluarga yang kini tinggal di kawasan Duren Tiga, Jakarta itu.

Kedua, sebuah ruko tiga lantai di kawasan Duren Tiga. Ruko tiga lantai itu dibuat untuk menjalankan usaha Klinik Anak yang diberi Brand “Kancil”

Awalnya bisnis yang menyewa tempat di Kemang,  Jakarta Selatan ini dilakukan bersama dua kerabatnya. Namun usaha itu tutup karena kedua kerabatnya mengundurkan diri lantaran tidak menguntungkan.

Teguh bersama istrinya memutuskan tetap menjalankan bisnis ini, bahkan dengan membeli ruko tiga lantai di daerah Duren Tiga tersebut pada 2010. Memang, dari segi bisnis Kancil  tidak menguntungkan. Namun, Teguh memiliki perhitungan lain.  Kalau dikalkulasi, total aset Kancil masih bisa menutupi kerugian klinik anak itu, karena harga ruko tersebut sudah melejit dua kali lipat dari sewaktu ia beli.   “Pembelian ruko ini juga investasi properti bagi saya,” tambahnya.

Ketiga, investasi properti berupa rumah tinggal di daerah Duren Tiga. Rumah tinggal Teguh dibangunnya sendiri setelah membeli tanah seluas 600 meter persegi pada 2004. “Bangunan rumahnya saya desain sendiri. Kini nilainya sudah tiga kali lipat dibanding harga beli tanah plus ongkos pembangunan rumah,” kata sarjana arsitektur ini.

Teguh memberikan closing statement mengenai indi=ustri properti di Indonesia, bahwa harga properti di Indonesia masih jauh dari kata bubble. Alasannya, lahan di Indonesia masih tersedia sangat luas, jadi  pembangunan properti masih bisa dilakukan ujar lulusan pasca sarjana bisnis administrasi Universitas Warwick, Inggris ini. Selamat berinvestasi.

Rate this article!
Tags: