Inovasi Aplikasi Android “E Vote” Mungkin Bisa Digunakan untuk Pemilu di Indonesia

Seorang mahasiswa memeragakan cara menggunakan aplikasi e vote

Seorang mahasiswa memeragakan cara menggunakan aplikasi e vote

Pewartaekbis.com , Surabaya — Para pemuda Indonesia rupanya terus berkreasi dan berprestasi. Kali ini wujud kreatifitas anak-anak bangsa datang dari Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMA TI) Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Sekumpulan mahasiswa itu berhasil menemukan sistem pemilihan “e-vote” dengan memanfaatkan perangkat mobile berbasis android.

“Jika KPU tahun ini telah mewacanakan e-vote melalui e-KTP pada pelaksanaan Pemilu 2014, maka kami telah memakai konsep itu sejak tahun lalu untuk memilih ketua dan wakil HIMA TI,” kata mahasiswa Prodi TI PENS, Raizal Islami Nursyah Pregnanta di Surabaya, Seperti dikutip dari laman Antara, Minggu 22 Juni 2014.

Kelebihannya, jika pada pemilihan tahun lalu digunakan konsep “just click”, maka aplikasi temuan mahasiswa PENS itu mengusung konsp inovasi “just touch” dengan memanfaatkan perangkat mobile berbasis Android.

“Meski terkesan rumit, pembuatannya hanya memakan waktu selama satu setengah bulan dengan biaya minim karena hanya pengembangan,” kata Raizal.

Secara teknis, sistem dan alur pemilihan memiliki kesamaan. Dia hanya melakukan perbaikan pada beberapa kekurangan sistem sebelumnya.

“Untuk teknis Daftar Pemiliih Tetap (DPT), saya menggunakan sistem verifikasi ganda. Saya menggunakan database dari himpunan, kemudian dicocokkan dengan database dari pihak PENS agar kesalahan nama, NRP, dan sebagainya dapat diminimalkan, sehingga valid,” jelasnya.

Sistem yang digunakan pada program e-vote berbasis android ini adalah membagi pemilih menjadi tiga kelompok status, yaitu belum memilih (pemilih yang belum melakukan registrasi dan untuk diberi hak suaranya oleh panitia sehingga diizinkan memilih), sudah memilih (pemilih yang telah memberikan hak pilih), dan batal memilih (pemilih melewati batas waktu pemilihan yang diberikan pada program bilik dan dapat mengulangi untuk tiga kali memilih).

Tiga Program Utama

Sistem pemilihannya sendiri terdiri dari tiga program utama, yakni registrasi awal, program bilik, dan registrasi akhir.

“Pada tahap registrasi awal, program ditujukan untuk mengaktifkan status dari pemilih yang awalnya berstatus belum memilih menjadi diizinkan memilih. Tahap berikutnya, pemilih menuju bilik guna menyalurkan hak pilih terhadap kandidat.”

Di bilik tersebut, pemilih diberi waktu selama 3 menit untuk menentukan pilihannya sebelum melakukan registrasi akhir sebagai tanda bahwa pemilih telah memberikan hak pilihnya.

“Untuk meminimalkan kebingungan pemilih maupun terbatasnya waktu memilih (3 menit/pemilih), panitia telah memberikan kesempatan kepada seluruh warga yang akan memilih untuk menjajal program melalui simulasi yang dapat dilakukan secara online pada link berikut, http://demokpu.hol.es/kpu2/,” kata Raizal.

Berbeda dengan simulasi, saat memilih bukan sembarang “username” dan “password” yang dimasukkan oleh pemilih.

“Pemilih yang merupakan mahasiswa PENS akan memasukan username email student dan password mereka masing-masing. Misalkan saja mahasiswa@eepis-its.edu dengan password 123xxx,” tambah Raizal.

Fungsi “username” dan “password” itu juga merupakan bagian dari pengembangan program terdahulu, yakni pemilih harus teregistrasi pada panitia secara manual menggunakan PC terpisah, selain dari teknis pengiriman data ke server utama.

“Sebagai tambahan, untuk mendukung aplikasi sistem dan keseluruhan program, kami menggunakan jaringan lokal dimana tingkat keamanan data dapat dipantau, sedangkan untuk koneksi kami menggunakan Wi-Fi independen yang mana Wi-Fi tersebut dapat diakses oleh perangkat dan server yang telah ditunjuk,” katanya.

Inovasi baru itu mendapat acungan jempol dari beberapa mahasiswa prodi lain.

“Modern dan Inovatif, apalagi jika bisa diimplementasikan dalam masyarakat luas atau setidaknya di lingkungan PENS secara keseluruhan, baik itu pemilihan PresBEM atau pilihan lainnya yang sejenis,” ujar mahasiswa Teknik Mekatronika, Hanif Nurdin Fitroni. (Antara)

Tags: