Kasus Perusakan Bangunan Cagar Budaya, Dua Terdakwa Divonis Denda Rp 500 Juta

sma 17

Yogyakarta –  Bangunan Cagar Budaya gedung SMA “17” 1 Yogyakarta yang terletak di Jalan Tentara Pelajar, Bumijo, Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta, yang biasanya dijadikan tempat belajar mengajar, beberapa waktu lalu dirobohkan. Bangunan bersejarah dengan gaya arsitek Jawa-Eropa yang pernah digunakan markas Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Tentara Pelajar dan Markas Komando Detasemen III Tentara Pelajar (TP) itu rusak.

Setidaknya 60 persen bangunan dalam kondisi rusak dan tidak bisa lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Atas perusakan bangunan cagar budaya tersebut dua terdakwa divonis bersalah dengan hukuman denda sebesar Rp 500 juta. Dua orang terdakwa itu adalah Muhammad Zakaria (36) warga Purwokerto Jawa Tengah dan R. Yoga Trihandoko (38) warga Kotagede Yogyakarta.

Sebelumnya, konflik berawal muncul ketika Yayasan Pengembangan 17 yang mengelola SMA “17” 1 Yogyakarta yang menempati gedung tersebut dan pihak yang mengaku sebagai ahli waris bangunan berselisih. Bangunan yang selama dijadikan sebagai tempat belajar mengajar, oleh ahli waris yayasan ternyata tanah dan bangunan tersebut sudah dijual.

M. Zakaria berdasarkan putusan PN Purwokerto Jawa Tengah dinyatakan sebagai pemilik bangunan SMA “17” 1 Yogyakarta telah membeli bangunan tersebut pada bulan Maret 2013. Dalam Surat Perjanjian Kerja (SPK) yang disepakati Zakaria dengan R. Yoga Trihando menyebutkan, bahwa M. Zakaria bersedia memberikan dana sebesar Rp 150 juta kepada Yoga untuk meratakan bangunan SMA 17 ‘1’ Yogyakarta. Yoga membayar kepada sekitar 15-30 orang lain untuk meratakan bangunan tersebut di tengah proses belajar mengajar.

Menurut Ketua Majelis Hakim, Merry Taat A dalam sidang yang digelar dipengadilan Negeri Yogyakarta, perbuatan kedua terdakwa berakibat hilangnya nilai historis yang tinggi milik bangsa. Keduanya juga tidak mengindahkan SK Gubernur DIY Nomor 210 tertanggal 2 September 2010, bangunan SMA “17” 1 Yogyakarta sebagai BCB.

Dalam sidang yang digelar Selasa (3/2/2015) siang, keduanya dinyatakan terbukti bersalah.  Dan secara sah dengan sengaja melakukan perusakan bangunan cagar budaya. Dalam vonis yang dibacakan oleh ketua majelis hakim, jika terdakwa tidak sanggup membayar hukuman denda, maka akan digantikan dengan hukuman kurungan selama 12 bulan.

Atas vonis tersebut, keduanya  dijerat pasal 105 jo pasal 113 ayat (3) UU RI Nomer 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar. Kasus perusakan BCB ini merupakan kasus pertama tentang perusakan BCB yang diproses hingga ke ranah hukum atau pengadilan.

Tags:
author

Author: