Gangguan Kejiwaan Intai Caleg Gagal Pasca Pemilu Legislatif

sakit jiwa caleg

Bogor, Pewartaekbis.com – Pemilu Legislatif di sebagian besar wilayah Indonesia telah dilaksanakan Rabu, 9 April kemarin. Rakyat Indonesia telah menyalurkan aspirasinya untuk memillih pemimpin lima tahun ke depan. Namun demikian, sejak bertiupnya angin reformasi, dan Indonesia megawali babak baru multipartai dan pemilihan wakil rakyat langsung, tentu terjadi pula perubahan sistem pengangkatan anggota legislatif.

Dalam pengangkatan anggota legislatif tersebut  tentunya ada yang terpilih ada pula yang tidak. Untuk itulah calon anggota legislatif (caleg)  tidak hanya harus cerdas menerima  kemenangan dalam Pemilu, tetapi yang terpenting lagi adalah bagaimana caleg juga harus siap menerima kekalahan dalam meraih meraih kursi.

Kecerdasan menerima kekalahan ini sangat perlu dimiliki oleh setiap petarung politik termasuk caleg.

Masih disayangkan lagi, banyak caleg yang menggunakan politik uang dalam melancarkan jalannya menuju kursi anggota dewan. Seperti yang disampaikan oleh Pengamat politik Lingkaran Survei Indonedia (LSI) Toto Abdul Fatah, Senin (7/2) di Bogor.

Toto menyesalkan masih kuatnya politik uang dalam sistem demokrasi di Indonesia. Meski pun ia merasa bahwa rakyat Indonesia masih berproses.

Toto Abdul Fatah juga menggambarkan, ada tiga tipikal caleg yang berkembang dalam pemilu di Indonesia.

Pertama, mereka yang punya uang.

Kedua, mereka yang tidak punya uang tapi punya idealisme.

Ketiga, yang tidak punya uang dan tidak punya idealisme.

Menurutnya, caleg tipe satu biasanya relatif stabil meski pun kalah. Tapi umumnya mereka menang karena banyak uang.

Sedangkan mereka yang tergolong tipe dua kebanyakan akdemisi, pengamat, atau pegiat LSM, yang juga relatif lebih stabil secara kejiwaan ketika kalah.

Nah, tipe ketiga ini yang potensi stressnya sangat tinggi dan ujung-ujungnya banyak yang dibawa ke rumah sakit,” kata Toto.

Banyak Caleg tidak lolos tes kejiwaan

Bercermin dari cerita tentang banyaknya caleg kalah yang mengalami gangguan kejiwaan pasca pemilu dalam beberapa periode pemilihan umum terakhir, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bogor berupaya mengecek kesehatan jiwa para kontestan sebelum “melepas” mereka bertanding.

Untuk wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok, tes kesehatan jiwa dilangsungkan bekerja sama dengan RS Marzoeki Mahdi (RSMM), Kota Bogor. Dari hasil pemeriksaan terhadap tiga ribuan caleg di tiga kota/kabupaten tersebut, diketahui bahwa 5-10 persen dalam status rawan gangguan jiwa.

Abdul Farid, Kepala Humas RSMM, menjelaskan tes dilakukan dengan metode Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI). Tes ini merupakan uji komprehensif untuk mengkur kepribadian, terutama gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang.

“Ada lima tingkatan hasil, yakni sangat baik, baik, sedang, buruk, dan sangat buruk,” ujar Farid, Senin (17/2).

Ketua KPU Kota Bogor Undang Suryatna, seperti dilansir dari laman Republika Online, menjelaskan, tes kesehatan jiwa merupakan satu syarat pendaftaran caleg yang ingin mengikuti pemilu, sebagaimana diatur perundangan yang berlaku.

Undang mengakui kalau caleg sangat rawan terkena gangguan kejiwaan. “Di Kota Bogor, ada 511 calon yang mendaftar. Sementara yang akan terpilih hanya 45. Nah, sisanya kan pasti tidak terpilih,” ujarnya.

Tags:
author

Author: