Khoirul Anwar, dari Kediri Penemu Teknologi 4G

khoirul-anwar-biografi-web-1

Jika Anda ingin mengetahui satu lagi anak negeri yang berkiprah cemerlang di negara  lain, dialah Khoirul Anwar. Khoirul Anwar, “arek ndeso” (anak desa_red) dari Jawa Timur yang punya karier cemerlang di Jepang.  Banyak hasil penelitiannya yang dipatenkan di luar negeri. Bahkan, hasil penelitiannya merupakan terobosan teknologi hingga menjadi standar internasional. Berikut paparan dari hasil wawancara ilmuwan muda yang rendah hati ini.

Khoirul Anwar kecil biasa membaca banyak buku sekolah sejak duduk di bangku SDN Juwet 2 hingga SMPN 1 Kunjang. Ia mengagumi tokoh-tokoh penemu yang memberi kontribusi bagi dunia, seperti  Newton, Faraday, Einstein serta ilmuwan lainnya. Ketika membantu orang tua di sawah, ia sering merenung, “Jika tidak berusaha, mungkin tidak akan seperti ilmuwan-ilmuwan itu.” Tentu penemuan rumus perlu perjuangan besar.

Karena ketekunannya dalam belajar, Khoirul akhirnya dapat kuliah di jurusan teknik Elektro ITB, sebuah jurusan bergengsi di Indonesia, setelah sebelumnya menamatkan sekolah di SMAN 2 Kediri. Lulus dari ITB, ia bekerja di Jakarta hingga memperoleh beasiswa ke Jepang dari Panasonic Scholarship.

Ia kemudian meraih gelar master dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST) pada tahun 2005 dan gelar doktor pada tahun 2008 di kampus yang sama. Pada tahun 2006, ia juga pernah menerima IEEE Best Student Paper Award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS), di California. Khoirul juga mendapat penghargaan bidang Kontribusi Keilmuan Luar Negeri oleh Konsulat Jenderal RI Osaka pada tahun 2007. Itulah sekilas karier akademik ayah tiga anak yang taat beragama ini.

Khoirul dan Penemuan Teknologi 4G

Khoirul Anwar merupkan penemu sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Temuannya ini kemudian mendapatkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan. Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang.

Di awal penelitiannya, doktor muda ini mencoba memecahkan permasalahan dengan melakukan penelitian tentang fluktuasi power penyebab tidak efisiennya sistem komunikasi. Ia mem-propose sebuah coding menggunakan fast fourier transform (FFT) karena tiga hal. Pertama, proses perhitungan bisa dilakukan secara cepat. Kedua, mengurangi fluktuasi power dan menyebabkan sangat efisien power amplification. Ketiga, menambah diversity.

Saat itu, ia tidak tahu jika 4G akan menggunakan teknik FFT kecil dan FFT besar dalam proses uplink transmisi. Saat terdesak karena harus mengajukan tema penelitian untuk mendapatkan dana riset, Khoirul memeras otaknya. Akhirnya ide itu muncul juga dari Dragon Ball Z, film animasi Jepang yang kerap ia tonton dulu ketika masih sekolah di Indonesia.

Ketika Goku, tokoh utama Dragon Ball Z, hendak melayangkan jurus terdahsyatnya, Genki Dama alias Spirit Ball, Goku akan menyerap semua energi mahluk hidup di alam, sehingga menghasilkan tenaga yang luar biasa. Konsep itu ia turunkan formula matematikanya untuk diterapkan pada penelitiannya. Maka inspirasi itu kini mewujud menjadi sebuah paper bertajuk A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval.

Khoirul memisalkan jurus Spirit Ball Goku sebagai Turbo Equalizer (dekoder turbo) yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.

Asisten Profesor berusia 31 tahun itu dapat mematahkan anggapan yang awalnya tak mungkin di dunia telekomunikasi. Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Turbo equalizer-lah yang akan membatalkan interferensi sehingga receiver bisa menerima sinyal tanpa distorsi.

Dengan mengenyahkan GI, dan memanfaatkan dekoder turbo, secara teoritis malah bisa menghilangkan rugi daya transmisi karena tak perlu mengirimkan daya untuk GI. Hilangnya GI juga bisa diisi oleh parity bits yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahan akibat distorsi (error correction coding).

GI sebenarnya adalah sesuatu yang tidak berguna di receiver selain hanya untuk menjadi pembatas. Jadi mengirimkan power untuk sesuatu yang tidak berguna adalah sia-sia, kata Khoirul.

Gagasan ini sendiri, dikerjakan Khoirul bersama Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki Mobile Wireless Center.

Setelah menurunkan formula matematikanya secara konkrit, Khoirul meminta rekannya Hui Zhou, untuk membuat programnya.

Metode ini bisa dibilang mampu memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA (3G), dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.

Ia juga bisa diterapkan Indonesia, terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit, maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah tadi biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang.

Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.

Khoirul, Jepang, dan Indonesia

Dosen sekaligus peneliti yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang ini juga mengemukakan alasannya untuk sementara masih ingin tinggal di Jepang. Pertama, ia lebih nyaman karena dukungan dana yang besar. Dukungan ini memudahkannya melakukan conference di luar negeri dan membeli peralatan riset. Kedua, semangan kompetisi yang fair. Setiap keberhasilan selalui dievaluasi dan memperoleh apresiasi. Ia percaya jika suatu waktu Indonesia bisa melakukan hal sama.

Ia yakin untuk berperan bagi bangsa tanpa harus ada di Indonesia. Justru saat berada di luar negeri seperti saat ini, ia bisa memberikan banyak hal kepada Indonesia, melalui seminar, kunjungan, dan kerja sama dengan universitas di Indonesia. Tahun 2013 ia dan tim JAIST melakukan kerja sama dengan Indonesia. Beberapa mahasiswa Indonesia di kirim ke JAISTuntuk intership dan sharing ilmu.

Ketika tahun 2011, Khoirul pernah ingin pulang dan menjadi dosen di Indonesia. Namun, seorang kolega menyatakan jika pulang, ia akan kehilangan kontak di luar negeri. Akhirnya, ia urung pulang karena mempertimbangkan bahwa kontribusinya mungkin lebih besar jika tetap di luar negeri. Hingga saat ini belum ada tawaran satu pun dari pemerintah Indonesia.

Kontribusi terhadap Indonesia tidak ada masalah. Karena ia masih memegang paspor Indonesia. Namun, akibat terlalu ribet dan makan banyak biaya, ia memutuskan memiliki dwi kewarganegaraan. Jika punya dwi kewarganeraan, masalah visa mungkin tidak perlu ada. Untuk mengoptimalkan peran terhadap Indonesia, ia yakin dwi warga negara akan mampu meningkatkan peran diaspora terhadap Indonesia. Meskipun demikian ia mengakatakan bahwa rasa rindu kembali ke Indonesia pasti ada. Ia rindu makanan Indonesia dan merasa tidak ada makanan seenak makanan di Indonesia. Bahkan, ia kadang merindukan suasana hari raya di Indonesia.

Tags:
author

Author: