Konsep Green Building, Perlu Komitmen dan Keseriusan untuk Penerapannya

gedung EDITT singapura

Gedung EDITT (Ecological Design in The Tropics) Singapura dibangun dengan material daur ulang
dan suplai energinya di-back up energi surya (40%).

Pewartaekbis — Secara umum, konsep Green Building atau “bangunan hijau” adalah “keseluruhan sistem” pendekatan bangunan yang  ditujukan dan difungsikan dari cara dirancang, dibangun, dan dioperasikan untuk meningkatkan kesejahteraan penghuninya serta mendukung masyarakat  dan lingkungan alam yang sehat.

Sejak prewsiden terpilih Indonesia menyatakan bahwa gedung di Jakarta harus berwawasan Green Building, banyak pihakyang kemudian menjadikannya isu hangat. Namun, penerapan green building di Indonesia membutuhkan komitmen kuat dan keseriusan dari pemerintah.

Merealisasikannya tidak bisa dengan jargon dan semangat musiman. Kita ambnil contoh di negara tetangga  Singapura. Negara kecil di rumpun ASEAN itu  berhasil merealisasikan green building setelah melalui masa uji keseriusan yang cukup panjang.

Negara ini mengawali komitmennya dengan membentuk Building and Construction Authority (BCA), sebuah lembaga di bawah Kementerian Pembangunan Nasional Singapura, untuk mengawasi, mengevaluasi, dan menerapkannya dalam  membuat bangunan aman, berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Salah satu bukti yang kini menjadi kenayataan adalah Gedung EDITT (Ecological Design in The Tropics) Singapura, yang  dibangun dengan material daur ulang dan suplai energinya di-back up energi surya (40%).

Gedung EDITT ini  merupakan salah satu gedung ramah lingkungan di negara kota itu. Gedung rancangan TR Hamzah & Yeang setinggi 26 lantai dibuat dengan material yang bisa di daur ulang. Selain itu di lokasi gedung ini akan dipasang panel surya yang dapat memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan listrik di gedung itu.

“Sejak tahun 1980-2005, BCA sudah mulai konservasi energi, tahun 2006  master plan pertama green building dibuat, ” ujar Jeffery Neng Kwei Sung, Centre Director BCA, Singapura di Jakarta, awal pekan ini.

Tidak hanya itu, tahun 2009 BCA menerbitkan master plan green building kedua.  Pemerintah Singapura menunjukkan komitemennya dengan tidak hanya menuntut, tetapi juga memberi dorongan dengan insentif. Dana yang ditawarkan bagi pemilik gedung Green Building cukup besar, bahkan hingga 100 juta dollar AS, selain insentif bagi gedung yang menerapkan standar energi sangat tinggi.

“Pemerintah Singapura menawarkan insentif 20 juta dollar AS selain 50 juta dollar AS dana untuk R&D, serta training intensif untuk industri,” imbuh Jeffery.

Green Building Rating System yang diterbitkan BCA saat ini sudah diikuti oleh 15 negara dengan lebih dari 70 kota terdaftar.

“Di Singapura sendiri, saat ini sudah ada lebih dari 2.100 gedung yang sudah bersertifikat Green Mark Building. Luasan itu setara dengan 62 juta m2. Kelihatannya besar, tapi ini baru 25 persen dari seluruh gedung di Singapura. Targetnya, hingga tahun 2030 sebanyak 80 persen gedung di Singapura sudah green,” imbuhnya.

Konsep penerapan green building ini akan menjadi isu krusial masa depan mengingat tahun 2050  mendatang, diprediksi sebanyak 70 persen populasi dunia akan tinggal di perkotaan.

Gedung-gedung di perkotaan itu menggunakan 40 persen energi dan air secara global selain menghabiskan sepertiga sumber daya bumi. “Penerapan green building menaikkan biaya mulai 0-5 persen, tapi kita akan memeroleh efisiensi biaya setelah 3-6 tahun,” terang Jeffrey.

Tags: