Ledakan di Tambang di Soma Picu Demonstrasi Protes

Pekerja tambang Turki yang selamat dari ledakan (Foto: Reuters)

Pekerja tambang Turki yang selamat dari ledakan (Foto: Reuters)

Pewartaekbis.com, Turki, Soma — Turki berduka, ledakan yang terjadi pada Selasa 13 Mei 2014 lalu di pertambangan batubara mengakibatkan  tambang itu runtuh dan mengubur  tak kurang dari 700 pekerja tambang berada di dalamnya.

Hingga Rabu (14/5) kemarin,  menurut keterangan resmi dari PM Turki Tayyip Erdogan, jumlah korban tewas dalam bencana tambang batu bara di Turki naik menjadi 238 orang pada Rabu waktu setempat. Sementara itu, 363 pekerja berhasil diselamatkan setelah beberapa jam usai ledakan, dan 80 dari mereka dilaporkan terluka.

“Menurut indikasi pertama, 238 pekerja kami tewas dan 80 luka-luka,” kata Perdana Menteri Tayyip Erdogan, saat konferensi pers setelah mengunjungi tambang di Soma, berlokasi sekitar 480 kilometer (298 mil) barat daya dari Istanbul, demikian  Reuters melansir, Kamis (15/5/2014).

Seperti diketahui, ledakan diperkirakan terjadi di sumber tenaga di tambang. Menurut laporan, ledakan terjadi karena gangguan arus listrik yang membuat lift di dalam tambang rusak dan ratusan pekerja terjebak. Hingga saat berita ini diturunkan, petugas penyelamat masih terus berupaya untuk mencari pekerja tambang yang masih terperangkap. Pemerintah Turki berharap jumlah korban tewas tidak akan bertambah.

Terkait musibah tragis tersebut, perusahaan tambang batu bara Soma Komur akhirnya  mengeluarkan pernyataan  resminya pada Rabu, 14/5/2014,  “Tambang tersebut dilengkapi dengan standar keamanan tinggi dan juga disertai pengawasan ketat. Sayangnya, pekerja kami kehilangan nyawanya dalam insiden tragis ini,” seperti dilansir Reuters.

Unjuk Rasa

Sebagai bentuk protes atas kecelakaan tambang di Soma, serikat pekerja tambang di Tukri melakukan mogok dan unjuk rasa pada pemerintah. Menurut pihak serikat, privatisasi yang dilakukan terhadap sektor pertambangan, telah membuat kondisi tambang menjadi berbahaya.

“Mereka yang telah mengupayakan privatisasi dan memaksakan kebijakan yang mengancam nyawa pekerja demi mengurangi pengeluaran, adalah penjahat sesungguhnya,” ujar Ketua Konfederari Pekerja Revolusioner Arzu Cerkezoglu, seperti dikutip Reuters, Kamis (15/5/2014).

author

Author: