Menjelang Musim Haji, Bisnis kain Ihram Kian Berkah dan Ajib

desain baju ihram

Baju Ihram sebagai perlengkapan haji dan umrah (sumber :dok Toko Nurani)

Pewartaekbis — Musim haji 2014 segera tiba, masyarakat Indonesia khususnya yang muslim terkenal memiliki animo tinggi untuk berbadah ke tanah Suci Mekkah. Bagi yang belum berkesempatan berangkat haji, tetap dapat mengunjungi Mekkah melalui ibadah umroh.

Tingginya animo umat Islam yang hendak beribadah ke tanah suci, baik melalui haji atau umroh membuat sejumlah lini bisnis ikut tumbuh, salah satunya adalah usaha perlengkapan haji dan umroh.

Salah seorang pelaku usaha yang menekuni bidang perlengkapan hajidan umrah adalah Iis Uway Waliyah. Bersama sang suami, Iis merintis bisnis aneka baju dan pernik-pernik kebutuhan haji sejak 1998 silam.

Ketika diwawancara, Iis menceritakan bahwa ia terjun ke bisnis ini karena sebuah ketidaksengajaan. Semuaitu diawali letika perempuan asal Sukabumi, Jawa Barat ini hanya membuka jasa jahit alias konveksi. Suatu hari, ada seorang pelanggan yang memesan baju ihram untuk para calon jemaah haji.

“Saya tingginya minat masyarakat yang ingin berangkat haji. Saya memberanikan diri untuk memproduksi baju-baju dan perlengkapan haji kemudian menjualnya sendiri,” ujar pemilik Toko Nurani ini.

Lantaran memiliki latar belakang konveksi, Iis fokus memproduksi baju ihram untuk pria dan wanita. Baju ihram tersebut meliputi kaos polos dengan ristleting di dada, terusan panjang untuk perempuan, celana panjang, serta gamis. Semua produk perlengkapan haji ini berbalut warna putih dengan model yang sederhana.

“Baju haji berbeda dengan baju muslim. Modelnya stagnan dan konvensional. Oleh karena itu, saya menawarkan baju-baju berkualitas dengan bahan nyaman dan jahitan kuat.” ujar Iis mantap.

Namun demikian, dia tetap menjual aksesori dan perlengkapan tambahan bagi jamaah haji atau umrah. “Kami menyediakan sepatu, masker, topi, dan pelindung koper. Produk-produk tersebut dikerjakan dengan sistem makloon ke perajin lain,” katanya.

Ketika ditanya mengenai pemasaran dan margin keuntungan, Iis menjawab bahwa sistem pemasaran produknya dilakukan secara grosir. Harga satu set baju ihram dijual mulai dari Rp115.000. Jika membeli dalam jumlah besar, dia membanderol dengan kisaran harga Rp2,3 juta–Rp3,8 juta per kodi.

Untuk produksi, iis menyiapkan sebuah lokasi di bilangan Pamulang, Jawa Barat. Sementara untuk pemasaran, dia menerapkan strategi penjualan secara offline dan online. Iis membuka dua kios di Thamrin City, Jakarta Pusat untuk menjual semua produk perlengkapan haji bermerk Nurani. Lebih lanjut, dia juga membuat situs www.perlengkapanhajinurani.com sebagai representasi toko online.

“Pembeli saya rata-rata adalah pemilik toko. Mereka membeli produk Nurani dalam partai besar dan menjualnya kembali. Konsumen saya paling banyak datang dari Kalimantan dan Sulawesi,” tutur Iis.

Adapun Margin keuntungan yang didapat dari bisnis ini mencapai 10%–30%.

Iis mengaku dibantu 18 orang karyawan. Setiap karyawan mampu memproduksi 10 set pakaian ihram setiap hari atau 3.600 set baju setiap bulan. Jumlah tersebut belum termasuk masker, topi, dan sepatu yang dikerjakan oleh konveksi lain dengan sistem makloon.

Soal peluang, Iis  optimis akan masa depan bisnis perlengkapan haji dan umroh tak akan lekang, karena setaip tahun pasti ibadahhaji akan terus ada. Selain itu, optinismenya tak lepas dari semakin banyak masyarakat yang ingin berangkat ke Tanah Suci, baik untuk beribadah maupun berziarah umroh.

Melihat potensi yang besar, Iis juga mengakui bahwa kompetisi di bisnis ini kian ketat. Pemain baru bermunculan bak jamur di musim hujan. Namun demikian, mereka yakin tetap bisa mendapat porsi keuntungan yang ajib.

” Kalau sudah mampu menawarkan produk berkualitas, saya yakin pembeli akan datang dengan sendirinya,” tutup Iis mengakkhiri wawancara.

Tags: