Meski Ditekan, Jokowi Tetap Ogah Beri Grasi Pada Pengedar Narkoba

jkw

Solo~ Tegas tanpa kompromi, mungkin sikap itu yang ingin ditunjukkanPresiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pengedar narkoba. Pasalnya, tadi malam (13/2) ia kembali memastikan akan menolak semua permohonan grasi yang diajukan dalam kasus narkoba. Penolakan tersebut dilakukan presiden karena mempertimbangkan dampak negatif yang merugikan bangsa akibat penyalahgunaan narkoba yang kian meraja.

“Ada 64 yang sudah diputuskan (hukuman mati), mengajukan grasi, saya pastikan semuanya saya tolak, tidak akan,” demikian ungkap Presiden Jokowi saat menghadiri Munas II Partai Hanura di Solo (13/2).

Presiden Jokowi mengakui, ia mendapatkan tekanan dari berbagai pihak termasuk PBB, LSM, hingga mendapatkan Amnesti Internasional. Namun, ia menyatakan tidak gentar karena Pemerintah Indonesia memang harus tegas dalam penegakan hukum terkait narkoba.

“Kalau ada pengampunan untuk narkoba dan makin lama dibiarkan, hancurlah kita,” katanya.

Berdasarkan Presiden Jokowi, ada 50 orang meninggal karena narkoba di Indonesia. Dengan angka tersebut, dalam setahun jumlahnya  bisa mencapai 18.000 orang. Kenyataan ini menurut presiden menunjukkan jika Indonesia dalam keadaan darurat narkoba.

Bahkan, Presiden menyayangkan eksekusi yang dijatuhkan kepada terpidana mati kasus narkoba sering kali tidak segera dilaksanakan sehingga efek jera tidak segera dirasakan oleh pelaku dan orang-orang yang terlibat dalam sindikat. Oleh karena itu, muncul kasus pengedaran narkoba yang ternyata diatur dari bilik penjara.

“Yang terjadi justru yang ‘di dalam’ mengatur dan memanage peredaran narkoba,” terang Presiden Jokowi.

Tags:
author

Author: