Pesantren Al Munawir Dikunjungi Pengajar Asal Afganistan

krapyak

Yogyakarta~ Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta pada hari Selasa (11/11) mendapat kunjungan spesial dari perwakilan beberapa pengajar asal Afganistan. Beberapa keluarga besar salah satu pesantren tertua di Nusantara ini pun nampak sangat berbahagia selama menyambut tamu-tamunya.

Salah satu keluarga Pesantren Al Munawir, KH Hilmy Muhammad, menjelaskan tentang serba serbi pondok pesantren yang ada di Kabupaten Bantul ini. Selain itu, beliau juga menjabarkan tentang istilah ‘salafi’ dalam frasa ‘Madrasah Salafiyyah’ yang menjadi bagian penting dari Pondok Pesantren Al MUnawir sejak puluhan tahun yang lalu.

Menurut KH Hilmy Muhammad, istilah ‘salafi’ di pesantren tersebut tak sama dengan diksi yang sama yang berkembang di Timur Tengah. Istilah ‘salafi’ yang ada di pesantren Al Munawir tak ada kaitannya dengan pemahaman salafi ala Wahabi. Istilah ‘salafi’ di pesantren Al Munawir justru dijadikan sebagai penjelas, bahwa di pesantren tersebut santri-santrinya mempelajari kitab-kitab klasik karya ulama-ulama salaf. Kitab dimaksud antara lain Minhajul Abidin, Bidayatul Mujtahid, dan Tafsir al-Baidhawi.

Pengajar asal Afganistan kemudian bertanya soal cara pesantren bekerja sama dengan unsur masyarakat lain tanpa menimbulkan konflik antar-aliran seperti yang marak terjadi di negara mereka. Menjawab pertanyaan tersebut, KH Hilmy Muhammad menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara Pancasila dan Yogyakarta memiliki Sultan yang menjadi salah satu simbol pemersatu.

KH Hilmy Muhammad juga menjelaskan tentang keberadaan organisasi masyarakat, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah, yang lebih memfokuskan kerjanya pada bidang sosial. Kondisi tersebut tentu berbeda dengan organisasi-organisasi masyarakat di Timur Tengah yang berafiliasi politik sehingga sering mencatut agama sebagai legitimasi politik. Selama berkeliling, mereka sangat terkesan dengan sambutan para santri.

“Kami sangat terkesan atas sambutan para santri di sini dengan segala suguhan dan sikap ramah yang kami terima. Mencerminkan bagaimana para pelajar (santri) maupun penghuni ma’had (pesantren) menghormati para tamu dan guru-guru mereka,” ungkap salah satu pengajar asal Afganistan.

Tags:
author

Author: