Raisopopo, Puisi Fadli Zon buat Sindir Jokowi?

fadli zon puisi

Raisopopo

aku raisopopo
seperti wayang digerakkan dalang
cerita sejuta harapan
menjual mimpi tanpa kenyataan
berselimut citra fatamorgana
dan kau terkesima

aku raisopopo
menari di gendang tuan
melenggok tanpa tujuan
berjalan dari gang hingga comberan
menabuh genderang blusukan
kadang menumpang bus karatan
diantara banjir dan kemacetan
semua jadi liputan
menyihir dunia maya
dan kau terkesima

aku raisopopo
hanya bisa berkata rapopo

Fadli Zon, 16 April 2014

Itulah versi lengkap puisi Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang bertajuk Raisopopo. Dari muatan isinya, kentara bahwa tokoh yang dimaksud dalam puisi itu adalah calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo.

Kata-kata seperti “blusukan”, “menumpang bus karatan”, dan “menyihir dunia maya” adalah isu yang dapat digunakan untuk menurunkan pamor Jokowi. Dalam puisi tersebut Fadli juga menyindir tokoh  yang diibaratkan tidak bisa apa-apa. Seseorang tersebut bagaikan sebuah wayang yang hanya digerakkan seorang dalang.

Bagaimana tanggapan Jokowi mengenai 1000 puisi yang terus dilontarkan Fadli Zon?

“Ya angin lalu lah,” ujar Jokowi di kediamannya Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/4/2014).

Puisi tersebut, menurutnya, bukanlah karya seorang sastrawan. Berbeda jika yang membuat puisi adalah sastrawan legendaris seperti WS Rendra, Chairil Anwar, atau aktivis Wiji Tukul.

“Puisinya kan bukan puisi sastrawan. Kalau puisinya sastrawan kan saya baca-baca. Kalau WS Rendra, Chairil Anwar, atau Wiji tukul itu baru,” ucapnya.

Gubernur DKI itu juga merasa tak perlu membaca puisi Fadli Zon yang kedua itu setelah puisi berjudul Boneka. Atau sampai membuat puisi balasan. Walau disebutkan kerap memakai kata Rapopo sebagai tameng, Jokowi kembali menggunakan istilah itu.

“Hanya puisi saja kok. Mau sajak, puisi, nyanyi nggak apa-apa. Mau balas juga buat apa. Tetap aku rapopo,” tukas Jokowi.

Tags:
author

Author: