Rendahnya Harga Minyak Dunia, Menjadi Dilema Bagi Pengusaha Biodiesel

bio
JAKARTA –Turunnya harga minyak dunia menyebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) menurun. Namun, disisi lain murahnya BBM menjadi disinsentif bagi pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel. Hal ini dikarenakan, biodiesel belum mampu bersaing dengan harga BBM.

Menurut Direktur Eksekutif INDEF Enny Sri Hartati agar produsen bisa mencapai harga keekonomian, perlu adanya insentif dari pemerintah. Dengan begitu, harga biodiesel bisa bersaing dengan harga BBM. Meskipun demikian, insentif dalam wujud subsidi output bukanlah jalan keluar terbaik. Karena, akan tetap memambah beban pada keuangan negara.

Enny mengatakan, pemerintah bisa memberikan insentif kepada produsen biodiesel dalam bentuk dukungan infrastruktur. Dengan dukungan tersebut, maka beban atau cost yang ditanggung produsen menjadi berkurang. Sama halanya dengan pengembangan bahan bakar gas. Selama ini kendala pengembangan BBG selama ini adalah infrastruktur. Namun, jika pemerintah bisa mengatasi problem ini, harga BBG jenis CNG diyakini bisa lebih murah dari Rp 3.100 per Liter Setara Premium (LSP).

Sementara itu, menyikapi kondisi rendahnya harga minyak dunia saat ini Chief Executive Director Mandiri Institute, Destry Damayanti mengatakan, sudah seharusnya  pemerintah menyikapi kondisi ini. Ia mengatakan, pemerintah sudah harus mengambil sikap atas penurunan harga minyak dunia dengan meningkatkan bidang sektor non-migas.  Sebab, dalam jangka panjang penurunan tersebut  akan berdampak pada nilai ekspor komoditi Indonesia.

Destry menambahkan, ia memprediksi tingkat harga minyak dunia yang rendah saat ini tidak akan bertahan lama. Setidaknya hanya akan bertahan sekitar  1 -1,5 tahun akan kembali lagi. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi lonjakan haraga minyak ini sebaiknya pemerintah perlu membangun industri manufaktur. Sehingga nantinya tidak akan terlalu terpengaruh dengan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif.

Tags:
author

Author: