Risiko Hamil Dini, Dari Kelainan Hingga Kematian

HAMIL

JAKARTA – Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, sekitar 10 persen remaja berusia 15-19 tahun telah menjadi ibu. Kehamilan dini pada perempuan meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi lahir prematur. Karena alasan inilah pemerintah menetapkan adanya atura pembatasan usia pernikahan.

Dilansir dari Kompas.com, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Nurdadi Saleh mengatakan, pada kehamilan dini atau usia ibu dibawah 21 tahun sangat berisiko secara medis.

Dr Nurdadi mengatan, baik ibu maupaun janin yang dikandung akan banyak risiko adanya kelainan baik secara fisik maunpun psikologis.

“Kematian ibu saat melahirkan banyak terjadi karena kehamilan pada ibu yang berusia terlalu muda”, kata dr Nurdadi.

Ia mengatakan, selain meningkatkan risiko kematian, kehamilan dini juga berisiko preeklampsia atau tekanan darah tinggi saat hamil.

Dr Nurdadi menjelaskan, pada perempuan usia di bawah 18 tahun, pertumbuhan panggulnya belum sempurna. Bahkan, banyak perempuan diusia ini yang harus melahirkan dengan operasi caesar karena panggul yang belum tumbuh sempurna sehingga persalinan normal sulit dilakukan.

Selain meningkatka risiko kematian dan preeklampsia hamil dini juga meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur. Hal ini disebabkan,saat usia remaja wanita masih memerlukan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya sendiri. Sehingga, indung telurnya belum sempurna.

Tidak sempurnanya indung telur ini, dikarenakan saat remaja hamil, maka nutrisi antara ibu dan bayi dalam kandungan terbagi. Oleh karenanya, perkembangan janin pun akhirnya tidak sempurna, bahkan berisiko lahir dengan kelainan bawaan.

“Sel telur belum sempurna akibatnya sering timbul kelainan kromosom pada bayinya. Ini menimbulkan kelainan bawaan,” ungkap Nurdadi.

Tags:
author

Author: