RUU Keperawatan Sejarah Bagi Bangsa Indonesia

nakes

Jakarta– Pada 11 September 2014 lalu, Komisi Kesehatan dan pemerintah telah membahas  RUU Keperawatan tingkat I. Melalui undang-undang kesehatan ini, diharapkan profesi keperawatan menjadi profesi yang bermartabat, dan dapat meningkatkan kontribusi perawat dalam pelayanan kesehatan yang lebih luas dan berkualitas.

Kamis (25 September 2014) kemarin Wakil Ketua Komisi IX, Dinajani H. Mahdi membacakan laporan jalannya pembahasan RUU pada tingkat I, bahwa seluruh fraksi dan pemerintah telah menyepakati RUU Nakes dan akan dilanjutkan ke Pembicaraan Tingkat II agar dapat disahkan menjadi Undang-undang.

Dengan lahirnya UU Nakes ini Dinajani berharap, “tenaga kesehatan di Indonesia menjadi lebih memadai baik dari segi kualitas, kuantitas maupun penyebarannya. Dengan demikian kualitas pelayanan kesehatan dapat berkembang menuju ke arah yang lebih baik di negeri tercinta ini”.

Seiring dengan pengesahaan RUU Nakes tersebut, Rancangan Undang-Undang Keperawatan juga telah disahkan dalam rapat paripurna ke-9 Dewan Perwakilan Rakyat kemarin. RUU ini telah disepakati oleh sekitar 454 anggota DPR dari semua fraksi yang hadir.

Pemimpin Sidang, Priyo Budi Santoso menyatakan, disahkannya RUU Keperawatan ini adalah sejarah bagi bangsa Indonesia. Pernyataan Priyo yang dilanjutkan pengetukan palu sebanyak tiga kali, yang langsung disambut sorak-sorai puluhan perawat yang duduk di lantai dua ruang rapat paripurna DPR.

Sementara itu, Menkumham, Amir Syamsuddin selaku perwakilan Presiden menyampaikan, dengan disahkannya RUU Nakes ini pemerintah berharap dapat menjamin setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil, merata, aman, berkualitas dan terjangkau. Ia menambahkan, semoga UU ini dapat memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat penerima pelayanan

Tags:
author

Author: