Solusi ATM agar Terhindar dari Aksi Skimming

Ilustrasi proses skimming pada ATM Bank

Ilustrasi proses skimming pada ATM Bank

Pewartaekbis.com, Jakarta — Terkait beberapa kasus  skimming pada beberapa ATM Bank, pakar forensik teknologi infomasi, Ruby Alamsyah mengatakan beberapa waktu lalu,  bahwa skimming hanya istilah, pada dasanya yang dimaksud skimming adalah pengopian data kartu magnetik secara ilegal.

Sebelumnya,  pada Sabtu (10/5), Bank Mandiri menerima informasi dari bank sejawat adanya dugaan  aktivitas penggandaan kartu di beberapa ATM, termasuk ATM Bank Mandiri. Berdasarkan informasi tersebut, Bank Mandiri kemudian melakukan pemeriksaan dan mengidentifikasi sejumlah 1.214 kartu yang diduga terkena penggandaan kartu dan memeriksa pula enam ATM yang kemungkinan besar pernah dipasang skimmer.

Rikki Dewangga, CISA, PMP, pakar Keamanan Teknologi Informasi (information technology/IT), mengatakan ancaman penyalahgunaan data di perbankan tersebut bisa saja  dilakukan oleh  sindikat kriminal internasional.

Jaringan sindikat tersebut memanfaatkan kelemahan beberapa kartu ATM/debit dari perbnankan Indonesia  yang  masih menggunakan magnetic, bukan berbasis chips seperti yang sudah diterapkan di bank-bank luar negeri.

“Kepolisian harus mengusut tuntas jaringan sindikat tersebut,” kata Rikki melalui keterangan pers, Rabu (14/5) malam.

Ia menjelaskan bahwa aksi kriminalitas siber yang  terjadi belakangan ini belumlah dapat dikategorikan sebagai pembobolan bank, pasalnya  keamanan data bank masih terjaga. Menurutnya, apa yang terjadi sebagai aksi kriminal yang memanfaatkan skimmer.

Menurut Rikki, kartu ATM keluaran bank yang  masih menggunakan kartu ATM berbasis magnetik, rentan untuk di-skimming dan diambil data-data yang tersimpan di magnet tersebut.

Untuk itu,  mesin-mesin ATM secara rutin dilakukan pengecekan agar ada tidaknya alat skimmer yang sengaja dipasang oleh pelaku kriminal dapat terdeteksi. Rikki memuji langkah preventif yang dilakukan Bank Mandiri untuk mengamankan data nasabah. Pakar keamanan jaringan ini juga menganjurkan  agar kartu ATM segera diganti dengan bentuk chips agar keamanan lebih maksimal.

Sebelumnya, Citi Country Officer Indonesia Tigor Siahaan mendukung upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) yang memberi batas waktu pergantian kartu magnetic ke chips mulai 1 Januari 2016. Dia menjelaskan, mulai 1 Januari 2016, seluruh transaksi perbankan baik melalui ATM atau kartu kredit sudah harus menggunakan chip.

Tags: