Solusi Green Building yang Ekonomis

gree-building

JAKARTA – Seiring dengan terus berkembangnya isu global warming, wacana pengembangan bangunan hijau atau green building menjadi suatu alternatif dan solusi yang menguntungkan dari berbagai sisi. Green building adalah bangunan yang mengefektifkan penggunaan energi dan meminimalisir dampak pencemaran lingkungan.

Namun, pendapat umum yang berkembang, green building berbanding lurus dengan anggaran biaya yang tinggi, sehingga belum banyak pengembang yang memilihnya sebagai pedoman dalam pembangunan properti.

Seperti dialnasir dari bisnis.com, pendapat berbeda dipaparkan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, IAI, Jakarta Steve J. Manahampi.

Steve menjelaskan, pergerakan wacana green building di dunia terbagi menjadi dua. Pertama, bangunan hijau secara aktif dan kedua secara pasif.

Bangunan hijau, ujar pria kelahiran Kediri 11 April 1976 ini, yang dianggap mahal itu kebanyakan didorong para industrialis, yang mana semuanya harus diselesaikan dengan teknologi atau mesin.

“Padahal, isu green building yang pasif, yang lebih murah, Jarang disentuh oleh orang,” katanya baru-baru ini.

Bangunan hijau secara pasif, paparnya, memanfaatkan alam secara dominan.

Alumni arsitektur ITB ini mencontohkan pembangunan rumah yang disesuaikan dengan arah terbit matahari akan meminimalisir suhu panas.

“Supaya jangan panas, bangun rumahnya jangan menghadap matahari. Kita tahu matahari pagi sehat, tetapi membuat rumah panas. Itu namanya pasif, kita menghargai alam,” katanya.

Untuk pembangunan high-rise pun, lanjutnya, pengembang dapat mengurangi penggunaan kaca berlebih pada sisi bangunan yang dominan terkena sinar matahari.

Di samping itu, sambung Steve, bangunan hijau secara pasif dapat dikembangkan dengan pemilihan material yang lebih murah.

“Jangan memilih yang dari Italia, yang dari Ujung Pandang juga ada. Atau pakai material lokal yang berkualitas, pakai bambu misalnya,” cetusnya.

Permasalahannya, Steve menyatakan, mayoritas masyarakat tidak bergerak kepada pengembangan bangunan hijau secara pasif. Tidak mengherankan, ungkapnya, bangunan hijau dianggap mahal.

Dia menegaskan bangunan hijau baik secara aktif maupun pasif memiliki tujuan yang sama, yakni kenyamanan pengguna dengan bangunan yang ramah lingkungan. Hanya saja, tambahnya, cara pengembangannya yang menyisakan pilihan.

“Sebenarnya mau green ke arah mana? Mau ke green technology based, dengab beli AC yang mahal tapi efisien. Atau membuat jendela agar angin bisa masuk,” imbuh Steve.

Rate this article!
Tags: