Suara PDIP Di Bawah Target, IHSG dan Rupiah “Galau”

PDIP jeblok

Jakarta, Pewartaekbis.com – Perhitungan cepat perolehan suara partai-partai peserta Pemilu menunjukkan dampak signifikan pada nilai tukar rupiah dan IHSG. Tercata, nilai tukar rupiah melorot ke level terendah dalam tiga pekan terakhir. Pelemahan tajam itu merupakan implikasi perhitungan cepat (quick count) yang menunjukkan perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang berada  di bawah prediksi.

Pada Kamis (10/4/2014) seperti dilansir dari Bloomberg, Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup merosot 3,16% (155,68 poin) ke level 4,765,73. Asing mencatat net sell sebesar Rp 1,45 triliun. Yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik menjadi 7,87%, serta rupiah terdepresiasi 0,6% di posisi Rp 11.355 per dolar Amerika Serikat. Itu merupakan penurunan terbesar sejak perdagangan pada 20 Maret.

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah berhasil menguat 0,4% pada perdagangan kemarin kembali melemah dengan persentase yang sama ke level 11.398 per dolar AS. Kontrak nilai tukar teresbut tercatat melemah 0,5% lebih para dibandingkan rupiah di pasar spot.

Sementara itu volatilitas rupiah satu bulan ke depan, tercatat melonjak hingga 39 basis poin atau 0,39% ke level 10,9%.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di level 11.342 pada perdagangan hari ini. Nilai tukarnya tercatat melemah 33 poin sejak perdagangan pada 8 April.

Sementara itu, pasar-pasar keuangan domestik ditutup pada perdagangan kemarin karena perhelatan pemilihan umum legislatif.

Galaunya nilai tukar rupiah dan IHSG menunjukkan ketidakpuasan pasar terhadap hasil suara yang dicapai PDIP.  Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia, sejauh ini PDI-P hanya memperoleh 19,7% suara, disusul partai Golkar sebanyak 14,6%, dan Gerindra sebanyak 11,9%. Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan batas minimal 25% suara yang dibutuhkan partai untuk mengajukan calon presiden tanpa perlu berkoalisi.

Sebelumnya, survei Roy Morgan bahkan memprediksi PDI-P dapat meraup 37%.

“Semua orang terkejut dengan perolehan suara PDI-P yang mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), jauh di bawah prediksi,” ungkap Kepala Riset Pasar Global kawasan Asia Tenggara di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd. Leong Sook Mei.

Dia mengatakan, Jokowi sebaiknya dapat memperoleh suara yang jauh lebih banyak saat pemilihan presiden mendatang. Hal itu mengingat Jokowi masih diprediksi untuk menang.

Hasil survei Roy Morgan menunjukkan PDI-P masih bisa memperoleh dukungan untuk mencalonkan Jokowi sendiri jika memperoleh 20% kursi legislatif. Hasil surveinya juga menunjukkan, Jokowi dapat memenangkan pemilihan presiden dengan perolehan 45% suara.

Namun hasil sementara yang diperoleh pada pemilihan kemarin menunjukkan Jokowi harus mendapat dukungan dari partai lain.

Dengan perolehan tersebut, PDI Perjuangan harus menggandeng partai lain untuk berkoalisi, jika ingin mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden.

Analis Bank Danamon, Anton Hendranata, seperti dikutip dari Vivanews, mengungkapkan, dengan perolehan suara tersebut, hasil pemilu presiden yang akan datang semakin sulit diprediksi pelaku pasar. “Siapa yang menjadi koalisi PDIP dan calon wakil presiden yang dipasangkan dengan Joko Widodo akan menjadi kunci,” tulisnya.

Dia menyebutkan, jika nantinya Joko Widodo menjadi presiden, dukungan dukungan legislatif dari PDIP terhadap pemerintahan yang akan datang juga akan lemah.

 

Tags:
author

Author: