Tak Ingin Kecolongan di MEA 2015, Rismaharini Mematenkan Kuliner Surabaya Ini

Walikota Surabaya, Rismaharini tampak bergembira bersama para peserta Festival Rujak Uleg Surabaya

Walikota Surabaya, Rismaharini tampak bergembira bersama para peserta Festival Rujak Uleg Surabaya

Pewartaekbis.com, Surabaya –  Festival Rujak Uleg yang dihelat di Jalan Kembang Jepun tepatnya kawasan Kya Kya Kota Surabaya, Minggu, diramaikan tak kurang dari 1500 peserta, bahkan tampak warga asing yang tinggal di kota Pahlawan itu ikut memeriahkan rangkaian kegiatan yang digelar  dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya ke-721 tersebut. Festival ini dibuka secara seremonial oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dengan menguleg bumbu rujak dalam sebuah kuali raksasa ukuran garis tengah satu meter, danselanjutnya kemudian dibagi-bagikan secara cuma-cuma pada warga masyarakat.

“Acara ini adalah simbol warga Surabaya, supaya punya rasa kebersamaan dalam setiap langkah. Kalau apapun dilakukan bersama-sama, saya yakin warga Surabaya bisa jadi pemenang dan bukan penonton di kota sendiri. Di usianya yang ke 721 tahun, saya mohon agar warga menyiapkan anak-anak hadapi masa depan dengan kerja keras dan berusaha semaksimal mungkin,” imbuh Risma.

Kostum beraneka ragam, dari pakaian tradisional, kostum beraroma Persebaya (tim sepakbola kebanggaan Surabaya), sampai kostum hantu pocong turut memeriahkan acara tahunan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya juga membawa misi jangka panjang bagi kekayaan budaya kuliner kota Perjuangan tersebut. Pemkot Surabaya mendaftarkan beberapa jenis makanan tradisional khas Surabaya untuk dipatenkan. Tujuannya supaya kuliner Surabayatidak diklaim oleh negara lain terutama saat memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Dalam keterangannya, Tri Rismaharini menyebutkan daftar makanan tradisional yang telah didaftarkan patennya tahun ini, yaitu Rujak Uleg, Rawon, Lontong Balap,   Tahu Campur, Soto Ayam, Semanggi, dan Soto Daging. Tak ingin kecolongan seperti yang sudah-sudah, Risma juga mendaftarkan hak paten  sekitar 6 jenis kesenian Surabaya, salah satunya Tari Remo dan beberapa jenis kue tradisional khas Surabaya. “Tahun depan itu pasar bebas, jadi kami ingin yang khas di sini harus dipatenkan. Saya tidak mau tiba-tiba nanti ada rujak milik negara lain,” ujarnya. Walikota perempuan pertama yang menerima penghargaan sebagai jajaran walikota terbaik dunia di London ini menjelaskan, pengajuan hak paten makanan tradisional Surabaya tersebut sudah diajukan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenkumham. “Tahun ini sudah saya daftarkan, kalau tahun lalu kami memang harus mengumpulkan sejarah atau histori serta komponen dalam tiap-tiap makanan itu, baru dikirim ke sana,” papar Risma. Risma menambahkan meski proses memperoleh hak paten tersebut cukup cepat, tetapi setiap jenis makanan tradisional itu masih harus melalui tahap uji selama 2 tahun. Bila dalam waktu 2 tahun tersebut tidak ada komplain dari pihak-pihak lain, maka makanan khas tersebut secara paten menjadi milik Surabaya. “Harus ada tahap uji, karena yang punya rujak memang tidak Surabaya saja. Namun, dari segi konten, rujak uleg Surabaya beda dengan yang lain. Kalau Surabaya, rujaknya ada bendoyo (krai atau sejenis mentimun ryang direbus),” ujarnya.

Tags:
author

Author: