Tiga ‘Penyakit’ yang Mengarah Pada Perceraian

pernikahan

Pewartaekbis~ Sudah menjadi rahasia umum jika pernikahan merupakan hubungan sakral yang mestinya memang dipertahankan hingga akhir. Namun, tak jarang yang menuai kegagalan dalam menjalani bahtera rumah tangga. Dari kegagalan tersebut, ada yang berakhir hingga perceraian.

Sayangnya, dari tahun ke tahun nampaknya angka percereaian di Indonesia semakin meningkat. Padahal tingkat pendidikan dan perekonomian warga negeri ini secara umum terus mengalami peningkatan dari masa ke masa.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita menjaga keharmonisan di dalam rumah tangga sehingga buah pahit bernama perceraian tak hadir dalam sejarah kehidupan kita. Salah satu tips menjaga keharmonisan ialah mewaspadai jika ada tanda-tanda hubungan tidak sehat dalam sebuah pernikahan. Berikut ini beberapa di antara tanda-tanda dimaksud. Jika ada salah satunya, segera cari solusi agar keluarga Anda tak mengalami perceraian.

Kebohongan
Kebohongan dapat disebut sebagai awal dari keretakan rumah tangga. Apabila Anda atau pasangan hidup Anda sudah hobi berbohong kepada pasangan, maka rumah tangga Anda dalam ancaman bom waktu.

Mengapa? Karena kebohongan umumnya muncul karena adanya sesuaatu yang disembunyikan agar si pasangan tak tau.Jika yang disembunyikan itu sesuatu yang ‘sepele’ mungkin tak menjadi soal. Lantas bagaimana jika yang disembunyikan itu rasa cinta kepada orang lain (PIL / WIL)?

Komunikasi Kurang
Sebagai sepasang insan yang telah diikat dalam pernikahan, sudah seharusnya dan sepantasnya jika komunikasi dengan pasangan Anda berjalan intens dan berkualitas. Dengan komunikasi yang intens dan berkualitas, Anda dan pasangan dapat berbagi dan saling memahami. Sebaliknya, komunikasi yang kurang dan tak berkualitas dapat menyebabkan berbagai permasalahan karena tidak saling memahami.

Kesadaran Akan Ketidakseimbangan Peran
Dalam sebuah pernikahan, suami dan istri memiliki peran yang sama pentingnya. Keduanya mesti bersinergi untuk mengayuh perahu hingga ke dermaga. Selama masing-masing memahami dan mengakui peran pasangannya dalam membangun keluarga bahagia, maka seluruh persoalan dapat lebih mudah diselesaikan.

Sebaliknya, persoalan yang kecil pun dapat mengalir kepada perceraian apabila si istri atau suami merasa pasangannya tak memiliki peran sebesar dirinya. Perasaan demikian sangat tidak sehat karena akan umumnya akan mengalir kepada kecurigaan dan ketidakpercayaan tak bertepi. Menakutkan bukan?

Tags:
author

Author: