Tragedi Gaza: Ramadan Kota Mati ala Gaza Palestina

Gaza kota mati

Gaza berubah menjadi kota mati sejak dibombardir Israel selama sepekan lebih

Gaza – Bulan suci Ramadan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam di dunia. Pada bulan ini, umat Muslim biasa  berkumpul dengan teman-teman dan keluarga untuk beribadah seperti salat Tarawih atau tadarus Al Quran. Bahkan di Indonesia, Ramadan biasa dilewati dengan aneka kuliner lezat, buka puasa bersama instansi, atau ngabuburit di pusat perbelanjaan.

Namun, tidak demikian dengan suatu kota kecil di tepi Barat negara Palestina, Gaza. Tak ada keceriaan Ramadan yang tersisa di kota padat penduduk yang telah bertahun-tahun menderita di bawah isolasi Israel itu. Bahkan, azan subuh dan waktu sahur bersama dihiasi dengan darah dan kehancuran ketika kota kecil itu dihujani bom setiap 5 menitnya oleh artileri udara Israel.

Seperti dikutip dari ABC6, Selasa (15/7/2014), keadaan itu telah mengubah keceriaan bulan puasa di Jalur Gaza menjadi kesunyian ala kota hantu.

Jalan-jalan yang biasanya dihiasi oleh aktivitas penduduk kini sepi bak kota mati. Toko-toko tutup, ekonomi macet, dan ratusan ribu orang tidak berani keluar rumah agar terlindung dari bom penghancur daging.

Sementara itu di Israel, pemandangan yang terjadi berkebalikan. Ratusan roket yang ditembakkan oleh militan Gaza tak banyak mempengaruhi aktivitas harian masyarakat Yahudi di kota-kota Israel. Perangkat keamanan anti roket “Iron Dome” yang disumbang Amerika Serikat membuatwilayah Israel relatif aman dari serangan roket buatan Hamas. Warga sipil hanya berlari ke tempat penampungan anti-bom dan tinggal di dalamnya jika sirene berbunyi.

Tak ada kerusakan berarti atau korban jiwa di Israel, sementara jumlah korban tewas di Gaza mencapai lebih dari 170 orang setelah serangan sejak Selasa 8 Juli 2014 lalu. Ironi sekali jika serangan bom membabi buta yang diklaim PM Israel Benyamin Netanyahu untuk membalas serangan Hamas atas wilayah Israel.

“Situasinya sangat buruk dan tidak biasa sama sekali. Orang-orang di bulan Ramadan biasanya menggunakan waktu untuk saling mengunjungi dan membeli kudapan yang hanya dijual selama bulan suci. Tapi sekarang, karena suasana perang, orang takut untuk pergi keluar dan tidak ada gaji untuk siapa pun,” jelas  kata ibu rumah tangga Umm Al-Abed.

Al-Abed menuturkan, ia pernah mencari toko-toko yang buka di Jalan Omar Mukhtar, salah satu jalan utama kota Gaza. Namun ia tak menemukan ada kios buka.

“Perekonomian sangat buruk, karena toko-toko semuanya tutup dan orang-orang semua di rumah,” jelas Al-Abed.

Demikian pula  Ibrahim Mahmoud Daoud,yang tinggal di dekat Jabalya, ia hanya bisa memandang sedih beberapa pemuda yang membantunya memunguti puing-puing bangunan rumah berlantai dua, yang dulu pernah ditinggalinya sebagai rumah. Kini yang tersisa bagi Daoud hanyalah puing-puing yang rata dengan tanah oleh bom dari sebuah pesawat perang Israel.

Tidak jelas mengapa rumah menjadi sasaran. Israel mengatakan pihaknya menargetkan gedung-gedung yang digunakan oleh Hamas untuk tujuan militer.

“Kami tidak membutuhkan rumah,” kata Daoud. “Apa yang kita butuhkan adalah sebuah negara. Anda saja aku masih muda, sehingga aku bisa mengenakan sabuk bunuh diri dan meledakkan diri di Tel Aviv.”

Tags:
author

Author: