Tragedi MH17: Dua Kali Kecelakaan Maut dan Saham Anjlok, Apakah Malaysia Airlines akan Bangkrut?

puing MH17

Pewartaekbis — Dalam setahun terakhir, Malaysia Airlines System Bhd. mengalami bertubi-ubi kesulitan, baik dari sisi finansial maupun insiden kehilangan dua pesawat dalam tragedi yang mengerikan. Apakah Malaysia Airlines terancam bangkrut?

Sebelum mengalami masalah hilangnya MH137 di perairan pasifik dan ditembak jatuhnya MH17 di wilayah Ukraina, maskapai penerbangan asal tetangga dekat Melayu, Malaysia Airlines (MAS), sebenarnya juga tengah menghadapi masalah finansial.

Dilansir dari Bisnis Daily,  kinerja maskapai penerbangan milik pemerintah Malaysia ini yang dipublikasikan pada Februari 2014 terseok-seok sepanjang tahun lalu. Pada 2013, MAS bahkan tercatat mengalami kerugian hingga 1,17 miliar Ringgit Malaysia atau hamoir sama dengan Rp3,5 triliun.

Kinerja perusahaan maskapai yang dipimpin oleh Ahmad Jauhari Bin Yahya sebagai Group CEO ini di tahun 2013  tersebut mencatatkan kerugian hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang membukukan kerugian RM432,58 juta. Padahal, tahun lalu, pendapatan MAS mencapai RM15,1 miliar atau naik 10% ketimbang periode 2012. Bahkan, jumlah penumpang MAS juga tercatat meningkat sebesar 30%.

Meski demikian, Maskapai yang sahamnya dikuasai 70% oleh Khazanah Nasional Berhard, perusahaan investasi milik pemerintah dan sisanya dimiliki publik ini memiliki pengeluaran jauh lebih besar dari pendapatan. Pengeluaran tinggi  berasal dari sektor kenaikan harga bahan bakar, pelemahan Ringgit Malaysia, dan persaingan bisnis yang ketat. Tercatat dari sektor bahan bakar, kenaikan yang terjadi mencapai 10% menjadi RM14,9 miliar akibat tingginya harga avtur.

Dikutip dari Bloomberg, saham Malaysia Airlines ditutup anjlok 11,11% menjadi RM0,200 per lembar atau turun 0,025 poin pada perdagangan Jumat (18/7) setelah kecelakaan maut di langit Ukraina.

Saham MAS rata-rata diperdagangkan pada level 0,185-0,205 per lembar dan setahun terakhir imbal hasil saham ini minus 35,48%. Maskapai yang memiliki kapitalisasi pasar di bursa saham Malaysia sebesar RM3,34 miliar itu membukukan pendapatan sebesar RM3,5 miliar pada kuartal I/2014. Namun, kerugian yang diderita awal tahun ini mencapai RM443,3 juta dan marjin keuntungan negatif 12,55%.

Tags:
author

Author: