Waspada Lembaga Investasi Bodong Merajalela

Sumber: Republika image

Sumber: Republika image

JAKARTA Pewartaekbis.com–. Waspada, lembaga investasi bodong yang kini makin marak menawarkan jasa investasi ke masyarakat. Investasi bodong yang merugikan nasabahnya sudah sering terdengar. Namun, kasus serupa kerap terulang kembali. Iming-iming keuntungan besar dari investasi itu menjadi daya pikat utama. Agar terhindar dari penipuan serupa, ada baiknya kita waspada. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sebanyak 238 perusahaan menawarkan investasi yang tidak berada dalam pengawasan OJK.

Ketua OJK, Muliaman D. Hadad mengatakan, sebagian besar modusnya berkedok pemasaran dengan mengandalkan jaringan multi level marketing (MLM). Ada juga, modus investasi emas dan perdagangan berjangka (forex trading).

“Perlu diwaspadai juga upaya mengecoh dengan menggunakan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang seolah-olah mendukung produk mereka,” tutur Muliaman, Jumat (21/3).

OJK sendiri menurut Muliawan, telah melakukan penanganan investasi bodong secara khusus melalui Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi yang beranggotakan sepuluh instansi. Selain itu, OJK juga menggandeng Bada Intelijen Negara untuk bersama menanggulangi lembaga invetasi tidak bertanggung jawab ini.

OJK dan BIN akan melakukan kerjasama di bidang pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang intelijen ekonomi dan sektor jasa keuangan. BIN menyatakan kesiapannya mendukung pelaksanaan tugas OJK. Tugas tersebut antara lain mendeteksi serta menyampaikan informasi intelijen untuk kepentingan perlindungan konsumen sektor jasa keuangan.

Sebelumnya, OJK sudah bekerjasama dengan beberapa regulator lain yang tergabung dalam Satgas Waspada Investasi. Mereka adalah Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti), Kementerian Perdagangan, Kepolisian RI, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), serta Kejaksaan Agung.

Selain itu juga tergabung Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi, serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sardjito, Kepala Satgas Waspada Investasi menyambut baik kerjasama OJK dengan BIN. Menurutnya, bantuan intelijen sangat penting untuk mencegah kerugian masyarakat. “Peran BIN, lembaga intelijen lain sangat penting,” kata Sardjito.

Pengamat investasi yang juga Guru Besar Ekonomi Keuangan IPMI Business School, Roy Sembel mengatakan, kerjasama dua lembaga ini akan efektif meminimalisir praktik investasi bodong. Maklum, investasi bodong bisa terjadi karena minimnya informasi yang dimiliki oleh masyarakat dan juga OJK.

“Kerjasama ini membuat OJK bisa mendapat informasi yang lebih jelas, akurat dan cepat dari pihak intelijen. Sehingga berpotensi mengurangi praktik investasi bodong di masyarakat,” ujar Roy.

Sementara itu, menurut Prita Hapsari Ghozie, CEO dan chief financial planner ZAP Finance, seperti dilansir dari republika.co.id menegaskan untuk selalu memeriksa ulang setiap tawaran investasi yang diterima. “Periksa perusahaannya, terdaftar di mana, apakah masuk Bapepam,” kata Prita.

Tak berhenti di situ, Prita berujar, sebelum memutuskan apakah tawaran investasi itu sungguhan atau tipuan, selalu cek skema keuntungannya. Biasanya, skema investasi tipuan akan berjalan lancar dalam satu hingga dua tahun pertama.

Keuntungan yang sebelumnya lancar lalu mulai bermasalah di atas tahun ketiga. “Kalau Anda mengalami pembayaran bagi hasil yang mulai seret, waspada dan cepat tarik dana Anda,” tegasnya.

Sebelum memutuskan berinvestasi, Prita menyarankan berkonsultasi dulu dengan seorang perencana keuangan independen. Apalagi, sambungnya, kalau tawaran investasi menjanjikan hasil yang sangat fantastis.

Tags:
author

Author: